Jumat, 06 November 2015

Sejatinya

07:40 WIB / SGR
06 - 11 2015


Aku tak pernah tahu ini kisah seperti apa. Sejatinya, aku pernah bahagia saat hari-hari yang aku lalui bersamanya. Sejatinya pula, ia pernah mengatakan padaku "hampir jatuh cinta". Sungguh, ada rasa kecewa dan juga bahagia. Kecewa, karena hampir. Bahagia, karena ada kesempatan. aku tidak mungkin mengatakan perasaan ini adalah cinta. Namun sejatinya, aku bisa melupakan cinta pertamaku yang tak bisa aku raih karena dia.


Perasaan yang tak mungkin aku abaikan begitu saja. Karena sejatinya, aku tak bisa melupakan cinta pertamaku saat aku bersama laki-laki lain. Namun, entah mengapa, kali ini aku bisa melupakannya.


Namun sejatinya, aku kembali terjatuh karena cinta. Entah itu karena cintaku yang pertama atau pun cintaku yang kedua. Dan hal inilah, yang mengurung niatku, hatiku, perasaanku membuka pada lelaki mana-pun.

Dua tahun aku menutup hatiku untuk semua laki-laki. Namun sejatinya, disaat aku membuka hatiku, aku lagi-lagi terjatuh. Hanya bisa menangis dalam diam disunyinya malam. Hanya mengingat kenangan yang pernah aku lalui bersamanya. Memang, tak bisa disebut kenangan, tetapi sejatinya, aku tetap menyebutnya kenangan.


Hingga pada akhirnya, aku hanya bisa memendam. Memendam sampai semuanya tak terasa. Hanya tenggelam dalam perasaan yang memendam. Hanya tenggelam dalam isak tangis yang diam. Dan sejatinya, saat aku tenggelam ia masih saja tak memperdulikan diriku. Aku memang belum pandai berenang, karena itu aku membutuhkan seseorang yang bisa menyelamatkan aku dari deras arusnya air saat aku berenang.

Sejatinya, kenangan yang hanya dilalui beberapa hari saja membuatku menderita. Sejatinya, air mataku tak pernah berhenti ditiap detiknya. Seperti hujan yang kala ini ikut serta menangis seperti hatiku. Sejatinya, aku lagi-lagi tak bisa meraih cintaku untuk kali keduanya. Sejatinya, cinta itu memang menyakitkan. Dan sejatinya pula, akan menutup pintu hatiku kembali.